Please Wait ...

Multiplier Effect PLTM untuk Perdesaan

 

Keberhasilan dalam Pengembangan Pembangkit Listrik Mini Hidro  Presiden Direktur PT Tamaris Hidro, Bapak Mohammad Syahrial menegaskan bahwa Tamaris tidak sekedar mengkonversi air menjadi listrik, tetapi lebih dari itu, yakni memberikan kontribusi dan manfaat bagi masyarakat sekitar pembangkit. Hampir semua pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTMH) Tamaris berlokasi di pelosok.

"Kepuasan saya bukan hanya soal bisnis listrik hidro, tetapi ketika kepuasan saya bukan hanya soal saya bisa berkontribusi untuk orang lain di sekitar lokasi PLTMH," ujarnya.

Ketika akan memulai pembangunan pembangkit mini hidro, yaitu proses membangun, mengelola, Tamaris langsung berinteraksi dengan fungsi sosial, memanfaatkan sumber daya manusia setempat dan memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang lebih konkret.

 

Syahrial menceritakan proses pembangunan PLTMH di salah satu desa yang belum teraliri listrik di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Warga sangat antusias karena berharap listrik bisa dinikmatinya dari PLTMH yang sedang dibangun oleh Tamaris. Selain itu, warga ikut dalam pembangunan pembangkit mini hidro tersebut. Selain bekerja untuk mendapatkan uang, warga antusias karena berharap konstruksi pembangkit itu cepat selesai sehingga dapat menikmati aliran listrik.

 

"Pada saat COD, kami menyiapkan water intake, kolam penampung air sudah penuh, warga berkumpul di power house kami. Kemudian kami mengoperasikan PLTMH dan lampu menyala. Saat itu juga warga langsung bergembira dan bertepuk tangan. Ini suatu kepuasan luar biasa bagi saya," tuturnya.

Selain di Pekalongan, Tamaris mengerjakan proyek pertamanya di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang mampu beroperasi secara komersial (commercial operate date/COD) tepat waktu pada 2013, yaitu proses konstruksi selama 23 bulan.

 

Pada saat akan membangun PLTMH Segara di Lombok, Tamaris menemukan hal yang menarik, yaitu tidak ada akses. Oleh karena itu, akhirnya Tamaris membangun jalan sepanjang 6 km di kawasan perkebunan kakao. Masyarakat sekitar pun sangat senang karena memiliki akses jalan tersebut. Selain itu, 60% pekerjanya adalah ibu-ibu.

Setelah hadirnya PLTMH Segara, menyusul pembangunan 2 sekolah, 4 ritel modern, 2 masjid, sehingga desa di sekitar pembangkit menjadi berkembang.

Lain cerita di PLTMH yang berlokasi di Solok, Sumatera Barat. Sampah yang berada di aliran sungai sangat banyak, sehingga menumpuk di saluran masuk air PLTMH. Tamaris bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk mengolah sampah tersebut menggunakan maggot atau lalat black soldier fly, sehingga sampah organik bisa hancur dan dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik.

 

Selain itu, Tamaris juga menggandeng yayasan yang fokus kepada lingkungan, untuk menjaga area/ kawasan tangkapan air tetap terjaga, sehingga sumber daya air tetap terpelihara dengan baik.

Hanya dalam waktu 9 tahun sejak berdiri pada 5 Oktober 2011, Tamaris mampu membangun 10 unit pembangkit mini hidro dengan total kapasitas 100,8 MW.

Mengusung motto "Flowing & Energizing", perusahaan ini memanfaatkan sumber daya alam berupa aliran sungai (run of river) untuk diubah menjadi listrik yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar yang menjadi "The Real Value of Mini Hydro".

Atas agresivitasnya, Tamaris diganjar penghargaan "Keberhasilan dalam Pengembangan Pembangkit Listrik Mini Hidro" dari Majalah Listrik Indonesia. ■

The Largest Mini-Hydropower Producer To Energize The Nation